Gelap Gulita & Hujan Kerikil Usai Gunung Lewotobi Meletus: Warga Panik, 7 Desa Terdampak

Outdoors

genberita.com – Gunung Lewotobi Laki‑Laki di Flores Timur, NTT, meletus dahsyat pada 17 Juni dan 7 Juli 2025. Dampaknya sungguh dramatis: langit tiba‑tiba gelap gulita, hujan kerikil, pasir, lumpur bahkan batu vulkanik turun ke permukiman. Lebih dari 7 desa terdampak, warga panik, dan tim BPBD dikerahkan untuk evakuasi serta pendataan korban.

Kronologi Letusan & Kolom Abu

Pada Selasa, 17 Juni 2025 pukul 17.35–17.41 WITA, erupsi eksplosif mengirimkan kolom abu setinggi 10 km di atas puncak—sekitar 11.584 m dpl.
PVMBG mencatat amplitudo seismogram mencapai 47,3 mm dengan durasi hampir 7 menit, lalu status dinaikkan ke Level IV (Awas).
Kolom abu menyebar ke berbagai arah, menyebabkan langit di lereng gunung menjadi gelap gulita, menyerupai malam padahal pagi atau siang hari.

Pada 7 Juli 2025 pukul 11.05 WITA, letusan lanjutan menghasilkan kolom abu hingga 18 km tinggi.—itu setara 19.584 m. Akibatnya, hujan kerikil dan abu kembali turun intensif di area sekitar Pos PGA dan desa‑desa terdampak.

Wilayah & Desa yang Terdampak

Lebih dari 7 desa terdampak langsung:

  • Ilebura: Desa Riangrita, Lewotobi, Lewoawan, Nurabelen

  • Wulanggitang: Desa Hewa, Waiula, Pululera, dan sekitarnya
    Daerah ini mengalami hujan pasir, lumpur, batu, dan kerikil vulkanik, yang menutupi jalan dan permukiman.

Warga desa Pululera dan Hewa menyatakan mereka terjebak di rumah, gelap gulita dan sulit bergerak keluar.
Beberapa warga memilih mengungsi ke desa aman seperti Nileknoheng, sedangkan lainnya tetap bertahan di lantai rumah karena akses terbatas serta takut menghadapi abu tebal.

Efek & Kondisi Lapangan saat Gelap Gulita

Saat letusan, atmosfer dipenuhi abu tebal. Suara ledakan keras menggelegar, jendela dan atap gemetar, lalu pandangan langsung tertutup awan abu .
Hujan kerikil membuat suara dentuman konstan, sehingga warga khawatir tertimpa material berat. Arsen Wepi, warga Hewa, menyebut situasinya “mencekam”.
Selain itu, abu vulkanik tinggi mengancam pernapasan; warga laporkan iritasi mata dan saluran pernapasan—beberapa menggunakan masker seadanya untuk bertahan.

Respons Petugas & Evakuasi

BPBD Flores Timur dikerahkan bersama Polres dan BNPB untuk mengevakuasi warga terdampak.
Tim juga memasang pos-pos darurat di desa‑desa aman seperti Nileknoheng, Pululera, dan Nurabelen, untuk pemantauan serta distribusi masker dan bantuan.
PVMBG imbau warga tidak beraktivitas dalam radius 6 km, dengan radius sektoral hingga 8 km di barat daya dan timur laut untuk keamanan.

Dampak Transportasi & Kesehatan

Jalan utama Flores Timur–Sikka sempat ditutup buka‑tutup oleh polisi akibat hujan kerikil & abu vulkanik.
Penerbangan ke/padam far berdekatan seperti Lombok dan Bali juga terganggu—ada pengalihan dan penundaan mendarat pesawat, termasuk jemaah haji.
Secara kesehatan, risiko meningkat: iritasi pernapasan, kulit, dan mata. Warga yang terdampak disarankan pakai masker dan batasi berada di luar rumah.

Tantangan dan Pelajaran Mitigasi

Kondisi saat gelap gulita dan hujan kerikil menunjukkan tantangan serius dalam mitigasi bencana vulkanik di daerah padat permukiman.
Perlu peningkatan peranan pos pengamatan dan sistem peringatan dini yang melek terhadap aktivitas letusan besar, agar evakuasi lebih cepat.
Kerja sama antara PVMBG, BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat harus diperkuat—salah satunya rutin edukasi kesiapsiagaan, latihan evakuasi, dan pelatihan penggunaan masker serta penutup wajah.

Implikasi Sosial–Ekonomi & Lingkungan

Erupsi ini menghancurkan atap rumah, lahan pertanian tertutup abu, dan jaringan listrik padam akibat material vulkanik.
Farmasi lokal menyiapkan masker dan obat saluran pernapasan, sementara usaha kecil terganggu aktivitasnya.
Akses jalan terganggu menyebabkan distribusi logistik dan transportasi ekonomi macet; harga kebutuhan pokok bisa melonjak karena suplai terbatas.

Letusan Gunung Lewotobi menghasilkan momen gelap gulita dan hujan kerikil di Flores Timur—fenomena yang nyata dan menakutkan. Lebih dari 7 desa terdampak, dengan kondisi darurat vulkanik yang memaksa evakuasi dan penanganan cepat darurat.